• gambar
  • gambar
  • ppdb
  • HIMBAUAN SEKOLAH DIL

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SMA NEGERI 1 MANCAK Religius, Santun, Peduli, Cerdas dan Terampil

Link Terkait

Statistik


Total Hits : 215222
Pengunjung : 83821
Hari ini : 46
Hits hari ini : 98
Member Online : 0
IP : 54.144.55.253
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 MANCAK

NPSN : 20605109

Jl. Raya Mancak - Anyer Km.1 Kec. Mancak Kabupaten Serang - Banten


sman.mancak@gmail.com

TLP : 087808207662


          

CERPEN KARYA QODRI HASAN MERAIH JUARA 2 TINGKAT KABUPATEN SERANG




ANAK GADUNG MENGGUNCANG NEGERI

 

          Terik matahari yang menyengat membuat beberapa tumbuhan berteriak kehausan . Dedaunan kering melayang layang tanpa arah yang pasti. Kicauan burung seperti alunan musik yang dimainkan terdengar dari sudut kota tua.

“Keripik…keripik…keripik gadung.” Suara seorang anak remaja menawarkan dagangannya. Andi orang orang menyebutnya, seorang anak yatim piatu orang tuanya meninggal ketika dia masih kecil. Pada hari libur sekolah ia sempatkan waktu untuk berjualan keripik, hal ini ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan Neneknya yang sudah tua renta. Meskipun dibilang orang yang tidak mampu, namun niat dan tekadnya dalam belajar sangat luar biasa.

         Siang berganti malam ,angin bertiup kencang memasuki sebuah rumah tua tanpa jendela. “Cu, tolong ambilkan dompet Nenek di lemari!” ujar Neneknya yang semakin melemah.

“Iyah, Nek,” kata Andi, kemudian mengambil dompet itu dengan langkah penuh kepastian

“Cu, sekarang Nenek sudah semakin tua, tubuh Nenek  melemah, dan Nenek tidak bisa apa-apa lagi. Ini ada cincin  harta satu satunya nenek, nenek berikan untuk keperluanmu.”

Nampaknya Nenek mengetahui bahwa Andi punya tunggakan di sekolahnya.

“Tidak usah Nek, Andi tidak mau merepotkan Nenek,” ujar Andi.

“Nenek akan sedih jika Andi menolak pemberian Nenek.”

         Mata Andi berkaca-kaca tak tahan membendung air matanya. Ia pun menangis dan memeluk Neneknya. Nampak sang rembulan tersenyum melihatnya, para penduduk langit pun mendoakan kepada Rabbnya untuk kesuksesan Andi.

         Malam semakin larut.  Binatang melata pun tertidur puas. Kesunyian melepas lelah yang berarti, Sebelum tidur Andi membasahi sebagian tubuhnya dengan air wudhu untuk melaksanakan salat sunah hajat dua rakaat. Di sebuah tikar yang rusak ia menghamparkan sajadah. Dalam doanya ia selalu berkata, “Ya Allah aku rindu ayah dan ibuku.” Air mata Andi bertasbih dengan penuh harapan yang tulus Allah SWT mendengar doanya. Kemudian ia pun tertidur ditemani oleh angin malam.

         Malaikat subuh berbunyi, Andi pun terbangun, kemudian bergegas untuk melaksanakan sholat dan menyiapkan sarapan untuk neneknya.

         Sang mentari beranjak dari peraduannya. Sebelum berangkat ia mengambil keripik gadung di rumah tetangganya untuk dijual di sekolah. Gadung adalah sejenis umbi-umbian yang bentuk umbinya lebih besar dari talas dan pohonnya memiliki duri di bagian batang.

         Andi sering diejek oleh teman sekelasnya  karena dia sering menjual keripik gadung. Namun begitu Andi tak pernah malu sedikitpun.

         “Lihat si gembel jualan gadung. Dasar anak gadungan,” ejek salah satu temannya

         Semua hinaan yang dilontarkan oleh teman-temannya ia terima dengan senyuman. Ia berdoa dalam hati, “Ya Allah, berilah aku kesabaran dan ketabahan untuk menghadapi ujian ini.”

         “Kring … kring … kring ...,” Bel sekolah berbunyi. Seluruh siswa pun masuk ke kelas dan siap menerima materi yang di berikan oleh guru. KBM telah dimulai, tetapi Andi belum masuk kelas.

         “Assalamualaikum,” Andi mengucap salam dari luar, lalu membuka pintu kelas.

         “Waalaikumsalam,” jawab guru dan teman temannya bersamaan.

         Sang guru menatap Andi sangat tajam sambil memegang rotan di tangannya hendak memukul Andi. “Kenapa kamu terlambat?” tanya sang guru,

         “Emmm ... emmm ...,” tiba tiba mulut Andi terkunci rapat.

         Ceprakk!..Rotan itu menghampiri tangan Andi dengan kecepatan yang tak terduga, Nampak raut wajah Andi memerah merintih menahan kesakitan. Suasana semakin hening.

         “Kenapa kamu terlambat?” tanya sang guru dengan intonasi yang semakin keras.

         “Bangunnya kesiangan, Pak,” ujar Andi. Ia terpaksa berbohong karena ada sesuatu yang ia sembunyikan.

         “Alasan saja kamu. Lain kali jangan terlambat lagi, silakan duduk!” ucap sang guru.

         Sebenarnya Andi terlambat karena sebelum masuk ia menghampiri seorang pengemis tua untuk menyedekahkan uang kepadanya.

         Ketika istirahat ia habiskan waktunya dengan menyendiri di musolaa ditemani buku hariannya. Ia tuangkan kisah kasih hidupnya dalam buku itu. Seketika itu penanya menari-nari pada secarik kertas. Nampak di situlah bakat terpendamnya bersinar.

         Bel masuk berbunyi ,Andi pun kembali ke kelasnya. Ia duduk di bangku paling belakang merenungi kesendriannya. Pelajaran dimulai, kebetulan saat itu membahas tentang sastra Indonesia. Entah ada angin apa tiba-tiba sang guru meminta Andi untuk maju dan membacakan sebuah puisi. Awalnya Andi tidak mau, tetapi karena dipaksa Andi pun maju tanpa persiapan apapun. Tanpa pikir panjang, ia pun beraksi

        

         “Perisai Senja”

 

“Hari demi hari ku lewati

Kebersamaan yang berarti

Kasih sayangnya abadi

Gelak canda yang terukir di hati

Ku tak pernah bisa bayangkan

Apa yang terjai di hari kemudian

Kebersamaan kan hilang

Kesedihan pun datang

Ya Tuhan

Bagaimanakah aku harus menghadapi saat itu

Apakah aku harus menyalahkan waktu

Jari manismu yang pernah kusentuh

Buaian kasih yang engkau berikan

Kini takkan kurasakan

Ayah …

Ibu …

Aku rindu …”

 

         Isinya yang penuh makna membuat hati sang guru terharu biru. Sang guru pun mengetahui bakat Andi dalam bidang sastra

         Hari berlalu mengalir tanpa henti, akhirnya Andi diajak oleh gurunya untuk mengikuti lomba baca puisi tingkat kabupaten. Andi menyetujuinya. Pada malam setelah tahajud, ia kembali menulis sebuah puisi dengan sangat hati-hati berharap ia bisa meraih juara dalam perlombaan tersebut.

 

***

 

         Perlombaan baca puisi tingkat kabupaten pun dimulai. Saat namanya dipanggil oleh MC,  Andi naik ke panggung dengan penuh keyakinan. Sesuatu yang mengejutkan pun terjadi dalam penampilannya yang membahana, membuat para dewan juri terhipnotis . Akhirnya Andi pun memengkan lomba tersebut. Ia kemudian mewakili kabupaten untuk loma di tingkat provinsi.

         Mendengar kabar bahwa Andi masuk tingkat provinsi, ada salah satu teman kelasnya yang bernama rifki merasa iri dan mencoba untuk menjelekkan nama baik Andi di mata semua orang

         “Kurang ajar, si gadungan itu bisa memperoleh juara. Ini tidak bisa dibiarkan. Saya harus mencari cara untuk membuatnya tercoreng di mata semua orang,” ujar rifki kepada Doni teman akrabnya

         “Iya betul si gembel itu tidak layak dikenal banyak orang, bahaya ini,”  kata Doni dengan raut wajah yang cemas.

         Suatu ketika Rifki dan Doni menyusun rencana untuk memfitnah Andi. Kesempatanpun ada ketika istirahat semua siswa keluar kelas. Mereka pun kemudian beraksi yaitu dengan menyimpan uang bayaran sekolah Rifki di tas Andi

         “Ha ha lihat saja kau gadungan. Kamu tidak layak ada di sini,” ujar rifki merasa bangga sendiri.

         Bel berbunyi mereka masuk kelas untuk menunggu pelajaran selanjutnya.

         “Lho kemana uang saya, tadi saya simpan di tas  kok sekarang tidak ada,” teriak Rifki sambil mencari-cari uangnya dalam tas.

         “Ah masa iya, Ki?  Jangan bohong kamu itu,” ujar Doni pura-pura terkejut.

         Suasana kelas pun gaduh atas kejadian itu.

         “Kemana uang saya?  Teman-teman coba kalian cari dalam tas masing masing. Siapa tahu ada di antara kalian yang mengambilnya,” ucap Doni mengusulkan kepada siswa lain.

         Mereka menggeledah tasnya masing-masing, begitu juga dengan Andi. Tak lama kemudian Andi terkejut melihat dalam tasnya ada uang sejumlah lima ratus ribu. Andi merasa itu bukan uang miliknya. Wajah Andi ketakutan dan menyembunyikan uang tersebut.

         Doni pun menengok ke arah Andi

         “Lihat si Andi kenapa tuh seperti ketakutan begitu? Coba teman-teman geledah dia,” perintah Doni.

Salah satu teman mereka merebut paksa tas milik Andi, dilihatlah beberapa lembar uang milik Rifki berada dalam tas Andi

         “Itu uangku, benar itu uangku ada lima ratus ribu,” teriak Rifki seraya merebut uang dari Andi.

         “Lihat ternyata itu uang Rifki. Dasar kau pencuri ,” teriak Doni tak kalah sengit.

         “Tak disangka kau mencuri uang saya,” kata Rifki sambil geleng geleng kepala

         “Tidak, saya tidak mencuri. Saya tidak tahu mengapa uang itu bisa ada dalam tas saya,” ucap Andi ketakutan.

         “Halah dasar kau pencuri, sudah jelas uang saya ada pada kamu. Mau bukti apa lagi?” ujar Rifki.

         Andi dibawa ke ruangan guru BK. Guru BK tak bisa berbuat apapun karena semua bukti menyudutkan Andi. Ia  mendapat hukuman berupa sanksi  skorsing selama 1 bulan untuk tidak ke sekolah..

         Hati Andi hancur berkeping-keping tak kuasa menahan sakit atas tuduhan tersebut.Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terlebih setelah kejadian itu Nenek Andi menderita sakit parah yang akhirinya sang nenek meninggal dunia.

         Sebelum meninggal, neneknya berwasiat kepada Andi, “Nak jadilah anak yang kuat dalam menghadapi cobaan apapun. Ingat Allah SWT tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya.”

         “Ya Rabb, hancurlah diri ini. Semua orang membenciku, menghinaku, memfitnahku, dan Engkau ambil orang yang paling aku sayangi. Aku sendirian, apa yang harus ku lakukan?” doa Andi ketika ia berada di makam neneknya. Ia sesungguhnya begitu rapuh walau terlihat tegar dari luar, tetapi ia berjanji pada neneknya untuk menjadi anak yang kuat dan tegar.

         Allah swt menjawab doa Andi, salah seorang guru menemui Andi di rumahnya. Beliau adalah sosok guru yang mengajak Andi lomba baca puisi. Melihat kondisi Andi seperti itu, sang guru itu menawarkan Andi untuk menjadi anak angkatnya.

         “Andi harus sabar mungkin ini ujian yang Allah swt berikan. Sebenarnya dari dulu ibu ingin sekali punya anak, kira-kira Andi mau tidak menjadi anak angkat ibu?” tanya sang guru lembut.

         Andi terdiam, sesaat benih-benih kebangkitan mulai menggelora dalam jiwa Andi. “Iya bu, insyaa Allah Andi mau,” kata Andi, terlihat senyuman kecil di wajahnya.

         Satu bulan berlalu,  Andi pun kembali masuk sekolah. Dilihatnya teman-teman Andi yang masih merasa geram melihatnya. ia menerimanya dengan penuh kesabaran. Rifki dan Doni hatinya sedikit mulai terbuka dan merasa bersalah atas apa yang mereka lakukan, namun ketika berjumpa dengan Andi mereka tetap menghina dan mengejek Andi.

         Andi melanjutkan persiapannya untuk mengikuti lomba baca puisi di tingkat provinsi.

Tepat pada hari perlombaan, sebelum berangkat Andi menyempatkan waktunya berziarah terlebih dahulu ke makam neneknya.

         Kini rasa percaya diri Andi berkobar. Hanya ada satu dalam pikirannya ia harus membuat bangga semua orang.

         “Peserta selanjutnya adalah Andi,” ucap pembawa acara.

         Sebelum tampil ia memejamkan matanya sesaat, berkata di dalam hatinya, “Guruku, nenekku, aku tidak akan mengecewakan kalian.”

         Dengan gagah berani ia keluarkan seluruh kemampuannya hingga akhirnya dewan juri pun berkata, “Luar biasa inilah sosok penerus Chairil Anwar, sang sastrawan.”

         Sorak penonton terdengar amat keras menggemparkan tempat tersebut. Saat pengumuman juara dimulai, tak disangka Andi pun berhasil menjadi juara lomba baca puisi. Ia pun tersujud sebagai ucapan rasa syukur terhadap Rabbnya yang telah mengabulkan doanya.

         Nampak sang alam berkaca-kaca melihatnya. Rasa haru terlihat dari  semua orang yang pernah membenci Andi, begitu juga dengan Rifki dan Doni.

         “Andi, sebenarnya yang menyimpan uang saya di tas kamu itu adalah saya dan Doni” ucap Rifki mengakui kesalahannya.

         Rifki dan Doni bersujud kepada Andi dan memohon maaf sebesar-besarnya. Mereka sangat menyesali atas perbuatannya. Andi pun mengagkat tubuh mereka berdua dan berkata, “Sebelum kalian meminta maaf, saya sudah memaafkan kalian. Kita adalah teman seutuhnya.”

            Akhirnya Andi pun bisa bergaul dengan baik bersama teman-temannya dan mampu mengukir prestasi di sekolahnya.

 

 

Biodata Penulis

NAMA       :   QODRI HASAN

SEKOLAH  :   SMAN 1 MANCAK

NOMOR HP:   081646075120

 

qodry1

            Penyerahan piala oleh ibu Chrisna sukarni,S.Pd selaku pembimbing penulisan cerpen kepada Qodri Hasan 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : Sapa Bae -  [Fajar@gmail.com]  Tanggal : 12/03/2019
Mantull ?... Sukses selalu saudaraku?


   Kembali ke Atas